Saturday, December 19, 2009

Jeffrey Dahmer, Sang Kanibal Yang Sangat Sadis, Part 2 (Habis)


Setelah pembebasan bersyaratnya pada tahun 1988, Jeffrey Dahmer melamar kerja di sebagai tenaga kasar di beberapa pabrik, dan ia diterima bekerja di Ambrosia Chocolate Factory. Saat Dahmer diusir keluar dari rumah neneknya karena meninggalkan bau busuk di kamarnya, dengan penghasilan tetapnya ini, Dahmer kemudian menyewa sebuah apartemen, yang tidak jauh dari tempat kerjanya.

Sebuah kejadian yang sangat ironis bagi korban Dahmer terjadi pada musim panas 30 Mei 1991. Pagi hari, Konerak Sinthasomphone, seorang bocah berusia 14 tahun (adik dari pacar Dahmer) ditemukan dijalanan, telanjang dan mabuk berat akibat pengaruh obat-obatan, dan macam2 luka terdapat ditubuhnya. Dahmer telah menyuntikkan berbagai obat, memaksanya melakukan hubungan sex dan menyiksanya. Konerak Sinthasomphone yang masih setengah sadar berhasil kabur saat Dahmer lengah.

Dua orang wanita yang merupakan warga di lingkungan tersebut menemukan Konerak Sinthasomphone, kemudian menelepon 911. Setelah polisi mengamankan Konerak Sinthasomphone, Dahmer kemudian dipanggil. Dihadapan polisi Dahmer mengatakan bahwa Konerak Sinthasomphone adalah kekasih gay-nya dan mereka sedang bertengkar.Tanpa menunggu Konerak Sinthasomphone sadar dari mabuknya untuk ditanyai, polisi langsung menyerahkan Konerak Sinthasomphone kepada Dahmer.

Polisi bahkan mengantar Konerak Sinthasomphone dan Jeffrey Dahmer hingga ke apartemen, sesampai di apartemen polisi mencium bau busuk, yang datang dari mayat Tony Hughes, korban Dahmer sebelumnya yang mayatnya sengaja disimpan Dahmer sebagai peneman tidurnya, dan telah membusuk. Namun sekali lagi Dahmer lolos didepan hidung polisi, karena polisi tidak melakukan penyelidikan atas sumber bau busuk tersebut dan meninggalkan Konerak Sinthasomphone dan Jeffrey Dahmer begitu saja.

Dahmer yang sudah geram dengan kaburnya Konerak Sinthasomphone, setelah menerima kembali Konerak Sinthasomphone dari tangan polisi kemudian menyiksanya sampai mati. Lolos dengan sangat mudah di depan hidung polisi membuat Jeffrey Dahmer semakin berani dan ganas, sepanjang musim panas Dahmer membunuh secara rutin satu kali dalam seminggu.

Setelah membunuh sebanyak 17 kali, Dahmer tertangkap akibat korbannya yang ke 18 lolos. Pada tanggal 22 Juli 1991, Tracy Edwards meskipun dalam keadaan tangan masih terborgol, dan menderita luka cukup serius, dan bersama dengan warga yang menemukannya melaporkan Dahmer ke polisi. Hari itu juga Dahmer dijemput oleh Polisi. Dalam persidangan, Dahmer hampir lolos dari hukuman dengan alasan gila. Namun akhirnya saksi ahli menyatakan bahwa Dahmer cukup waras dan bertanggung jawab penuh atas perbuatannya.

Dahmer dijatuhi hukuman mati. Selama di penjara, Dahmer sempat diserang oleh rekan-rekan penjaranya, namun pada percobaan pembunuhan pertama Dahmer lolos dan selamat. Namun pada serangan kedua pada 28 November 1994, seorang pacar Dahmer, yang geram pada kelakuan Dahmer membunuhnya di ruang Gym, kali ini Dahmer tewas.

Dahmer merupakan pembunuh yang sangat sadis dan kejam, banyak detail dari teknik penyiksaan yang dilakukan Dahmer dan juga foto-foto yang berkaitan dengan kondisi korban Dahmer saya putuskan untuk tidak saya muat dalam artikel ini (sensor). Dengan alasan terlalu sadis untuk dituliskan.

Sebagai catatan:
John Balcerzak dan Joseph Gabrish, dua dari tiga polisi yang mengembalikan Sinthasomphone kepada Dahmer, dipecat dari Kepolisian Milwaukee, setelah tindakan mereka setelah dipublikasikan secara luas. Kedua petugas yang dipecat kemudian membayar untuk pemulihan nama baik mereka. Mereka kemudian mendapatkan kembali pekerjaan mereka. Bahkan Balcerzak kemudian terpilih sebagai presiden dari Asosiasi Kepolisian Milwaukee pada Mei 2005. Kenyataan yang cukup ironis dan tragis.

Anda dapat menyaksikan sebagian dari kisah Dahmer pada video berikut:





www.AstroDigi.com (Nino Guevara Ruwano)