Tuesday, January 15, 2013

Awas! Pelaku Kejahatan Seksual Mengintai Di Facebook!

www.AstroDigi.com VIVAnews.com | sabtu 12 Jan 2012 | Mata gadis cilik itu berkaca-kaca, dengan suara lirih ia menceritakan apa yang dialaminya Senin 8 Oktober 2012 lalu. Pagi itu, ia kembali ke sekolah dengan langkah berat dan kepala yang tertunduk.  Sudah dua minggu ia tak masuk.

ASS, inisial namanya, tak mau pergi sendirian, ia diantar sang ibu, Raudan. “Saya minta Mama antar sampai gerbang sekolah saja. Saya sekolah karena sudah kangen ingin bertemu teman-teman,” kata ASS kepada VIVAnews, Selasa, 9 Oktober 2012.

Seperti biasa, tiap Senin, upacara bendera dilaksanakan di halaman sekolah SMP Budi Utomo. ASS bergabung dengan teman-temannya yang lain, berdiri di barisan tengah peserta upacara. Awalnya semua berlangsung seperti biasa. Hingga giliran Ketua Yayasan Budi Utomo, Renata, yang jadi inspektur upacara memberikan sambutan.

“Ibu ketua yayasan bilang, ‘saya tidak mau ada murid yang telah merusak nama baik sekolah tetap bersekolah di sini’,” kata ASS menirukan ucapan Bu Renata saat upacara. Sontak, semua mata melihat ke arahnya. “Teman-teman langsung melihat saya. Saya malu.”

Setelah upacara bubar, masih menahan malu, ASS masuk kelas untuk mengikuti pelajaran. Baru saja ia duduk dan menyiapkan buku, guru Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH), Farid, memintanya mengemasi perlengkapan sekolah dan keluar dari kelas. “Saya kaget diusir dari kelas. Saya tidak percaya dikeluarkan dari sekolah,” kata dia.

Dengan air mata berlinang, ASS berlari ke arah ibunya, yang masih ada di depan sekolah.  Raudan yang kaget dengan pengakuan putrinya berusaha menemui guru dan ketua yayasan untuk minta penjelasan.  Namun tak ada yang menemuinya. Keduanya lantas pulang dengan perasaan terluka.

Insiden pengusiran AAS menjadi perhatian banyak pihak. Keesokan harinya digelar pertemuan antara anggota DPRD Kota Depok, Dinas Pendidikan Kota Depok, pihak sekolah, korban, dan keluarga korban. Pertemuan yang digelar mulai pukul 09.00 WIB itu berlangsung tertutup.

Usai pertemuan, pihak sekolah membantah telah mengusir AAS. “Mungkin AAS dan ibunya salah persepsi. Yang jelas, kami dari pihak sekolah tak pernah mengeluarkan siswa tanpa surat dan pernyataan resmi,” kata Ketua Yayasan Budi Utomo, yang juga kepala sekolah, Renata, dalam keterangan pers bersama usai pertemuan tiga pihak di kantor yayasan sekolah di Depok, Selasa 9 Oktober 2012. Dia balik menuding orangtua AAS tidak kooperatif.

Mendengar pernyataan itu, Raudan langsung naik pitam dan memotong pernyataan Renata. Ia mengaku menjadi saksi anaknya memang sempat dikeluarkan sekolah. Sementara, AAS yang tak banyak bicara dan selalu bersembunyi di balik punggung ibunya, mengaku trauma, meski ia sudah diizinkan kembali ke sekolah “Saya mau sekolah. Tapi kalau kembali ke Budi Utomo belum tahu, saya takut ada tekanan,” kata dia.

Diculik dan diperkosa

Apa yang dialami ASS di sekolah memperparah trauma yang dia rasakan: sebagai korban penculikan dan pemerkosaan tiga pria bejat. Beban yang terlampau berat, apalagi untuk seorang anak berusia 14 tahun.

Kisahnya yang tragis diawali perkenalan dengan seorang pria berinisal CP di situs jejaring sosial, Facebook. Satu bulan berhubungan di dunia maya, keduanya lalu kopi darat hingga mendeklarasikan diri sebagai sepasang kekasih.  Tak lama, pasangan itu pun putus dan memutuskan menjadi teman.

Belum lama ini, ASS dan CP kembali berkomunikasi. CP yang juga sopir tembak angkutan kota Depok-Parung itu mengajak korban ke Parung, Bogor. Ajakan itu ditolak oleh ASS. Tapi, pelaku mengiming-imingi korban dengan uang  jajan Rp300 ribu. “Itu katanya buat jajan-jajan saat jalan nanti,” kata ASS.

ASS terjebak, pelaku menculik korban dan menyekap korban di empat lokasi berbeda. Sehari ia hanya makan sekali, diperlakukan kasar, dan yang lebih parah, ia harus melayani nafsu bejat CP dan  diperkosa dua teman pelaku. “Dia sering memukul saya kalau tidak mau melayaninya. Tak cuma itu Pak, dia juga sering memaksa saya untuk minum minuman keras. Saya takut… Setiap hari saya dijaga dua sampai tiga orang pria,” kata ASS.

ASS bahkan nyaris dijual ke Batam. Hingga akhirnya gadis kecil ini berhasil lolos dari sekapan pelaku setelah seorang perempuan paro baya melihatnya di kawasan Terminal Depok,  Minggu 30 September 2012 siang.  “Ibu itu panggil-panggil saya. Lalu saya ditarik katanya saya lagi dicari di koran dan di TV. Pas saya ditarik, pelakunya langsung kabur naik angkot.”

“Jerat” Facebook

Apa yang terjadi pada ASS bisa menimpa siapapun. Hingga September 2012, sudah 21 remaja putri yang menjadi korban eksploitasi  oleh orang yang dikenalnya melalui jejaring sosial seperti Facebook. Satu di antaranya bahkan meninggal dunia.

“Ini sangat mengkhawatirkan. Ada yang diculik, dirampok, korban perdagangan manusia dan korban pelecehan seksual. Satu kasus ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa lagi,” kata Ketua Komnas Perlidungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait.

Karena itu, pengawasan orangtua untuk memantau pergaulan anak khususnya melalui media sosial di internet penting dilakukan. “Orangtua harus lebih intensif  memantau pertemanan, terlebih pergaulan di dunia maya yang dilakukan anaknya,” katanya.

Selain itu pengetahuan akan internet juga mutlak dipelajari orangtua. “Karena itu, orangtua juga harus peka terhadap teknologi, ya jangan terlalu gagap teknologi. Orangtua harus mengerti dan memahami internet.”

Dan ini tak hanya terjadi di Indonesia. Tapi di seluruh di dunia.

Seperti dimuat Daily Mail 4 Oktober 2012, Kepolisian di Amerika Serikat mengeluarkan peringatan soal keamanan internet pasca penangkapan seorang pria 19 tahun yang didakwa memperkosa seorang gadis berusia 13 tahun yang ditemuinya di Facebook.

Penyidik di North Carolina, AS menangkap Robert Weaver pada Selasa pagi. Penyelidikan mengungkap, Weaver punya 1.200 teman di Facebook, mayoritas remaja putri.

Tak hanya itu, seorang pria 35 tahun asal Lexington County, William Spivey dipenjara atas tuduhan meminta seorang gadis 13 tahun untuk melakukan hubungan seksual dengannya. Ia memakai nama palsu saat melakukan aksinya. Untung, pesan mesum itu diketahui ibu korban.

“Jutaan pengguna mendaftar ke situs media sosial seperti Facebook setiap hari,” kata Jaksa Agung South Carolina, Alan Wilson.

Dengan  wajah  yang terpampang di jejaring sosial yang melekat pada setiap nama, itu bisa menjadi surga bagi predator. “Facebook, ibarat  gergaji, dapat menjadi alat yang berguna di tangan orang yang tepat," kata Wilson. “Tapi, di tangan orang yang tidak memahami kekuatannya, itu bisa menjadi senjata mematikan.”

Sementara, seperti dimuat CNN,  mulai 1 Agustus 2012, negara bagian Lousiana, Amerika Serikat mewajibkan, orang yang terbukti melakukan pelanggaran seksual dan predator anak wajib mencantumkan status kriminalnya di Facebook dan jejaring sosial. Sebuah keputusan yang mendapat dukungan dari pihak Facebook.

Situs jejaring sosial seperti Facebook dan MySpace sejak bertahun-tahun lalu telah menghapus para pelanggar seks dari halaman situs mereka.  Namun, sifatnya lebih sebagai "pemadam kebakaran". Upaya pencegahan dan kehati-hatian lebih penting dilakukan.

www.AstroDigi.com (Nino Guevara Ruwano)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...